Tuesday, July 18, 2006


Hari kedua di USNS Mercy
Hari kedua setelah susah tidur di dalam kabin USNS Mercy. Pagi itu aku membantu menterjemahkan semua tenatng Kapal USNS Mercy kepada para pejabat Nias Selatan. "Iya Pak, kit aharu sdenegerin dulu tentang fasilitas Mercy, ntar setelah ini kita atur deh check up khusus buat Bapak dan temen temen yang ingin di check up!"

USNS Mercy yang kayanya dulu kapal tanker minyak memiliki fasilitas UGD yang terlengkap di seluruh rumah sakit di Amerika (termasuk yang di darat) dan juga dilengkapi dengan fasilitas medis yang luar biasa. Mulai dari 2 ruang operasi dan perlengkapan post surgery, ditambah lagi dengan fasilitas rawat inap yang bersih, terawat dan komprehensif. Salut bener bener salut! Semua pasien juga ditangani dengan baik dan ramah oleh para dokter dan paramedik kapal. Aku melihat sendiri senyum yang tiada henti hentinya dari merka yang sehari bekerja lebih dari 15 jam. Walaupun demikian tetapi tetap dapat bekerja secara professional. Bahkan karena tanggung jawab moral , salah seorang dokter mau membuat list dari pasiennya yang dirawat saat tsunami dan gempa tahun 2004 - dan tahun ini dia melihat mereka kembali sudah bisa bermain dengan riang... Coba deh! apa yang gak paling menyenangkan daripada mengembalikan kebahagiaan bagi orang lain....

Fasilitas untuk 'hidup' di Mercy sendiri tidak kalah hebat. Dengan memiliki alat perubah air asin menjadi air tawar, Mercy mampu untuk hidup selama 6 bulan dilaut lepas. Ini belum ditambah dengan fasilitas olah raga, nonton "mis bar" gerimis bubar" di deck atas, dua helicopter (sea hawk) cafetaria (dengan makanan 'bule abis' tapi aku suka kok! dan mereka juag respect terhadap yang muslim karena menyediakan makanan halal), toko souvenir. Dari semuanya yang paling membuat aku terpana ya di deck kapal... hmm pas sunset begitu bagusnya!

Tiba saatnya untuk pulang... hmm.. ntah kapan lagi bisa ke Nias.. pulau yang begitu eksotis.. hanya sering terabaikan...








Monday, July 17, 2006

Akhirnya.. aku dapat kesempatan ke Nias. Bayangkan! Tinggal di Medan tapi belum pernah ke Nias.. ternyata memang kerja bisa membawa nikmat dan ilmu! :0)


Pagi, bangun pukul 4, langsung mandi dan bersiap - tas ransel putih yang memang sudah menemaniku ke mana mana sudah siap tersedia di depan pintu kamar. Sholat dan sarapan dengan cepat. hmmm.. Aqila kecil dan Ka' Dasha masih terlelap.. setiap hari aku menikmati pandangan yang sama... kedua periku terlihat begitu mirip dan lucu.. hanya saja, satu versi yang sudah 4 tahun dan yang satu baru setahun,.. tapi aku dan Putra tergila gila dengan mereka..

Quick kiss as always.. on the cheeks, on the neck.... I smelled their "minyak kayu putih" essence.. hmm..

Zoom, tiba di bandara Polonia dan menjumpai dua teman jurnalis yang sudah begitu akrab, ditambah bos baru yang juga ternyata, orangnya lucu dan santai - cocok dengan apa yang aku harapkan! Akhirnya kami memulai perjalanan dengan Merpati, yang kabin dalamnya luar biasa 'berembun' sampai sampai terasa seperti ada yang mau goyang dangdut! ha ha...

Pohon kelapa yang berbaris, hamparan laut yang biru dan pasir pantai yang bersih.. betapa aku cinta laut! (meski aku gak terlalu bisa berenang.. ) tetapi laut benar benar bisa menyejukkan hati. Dengan segera kami menyusuri jalan kampung, menujur RSU Gunung Sitoli, di sana aku tersentak dengan barisan masyarakat yang benar beanrtidak punya akses untuk pelayanan medis yang baik. Kasihan mereka.... antrian yang panjang, no! lebih cocok disebut seperti keroyokan... mereka tetap pada budaya 'susah ngantri' sampai akhirnya kami pun pusing melihat tidak ada tanda tanda kemajuan dalam proses pendaftaran. Akhirnya aku minta izin untuk membantu atur barisan - somebody got to do it! dan Ya Allah, memang susah mengajarkan budaya baris... sampai akhirnya aku berhasil juga, setelah bercucuran peluh dan kehabisan suara. Seperti biasa, aku meniru logat setempat, supaya cepat akrab saja dengan mereka.

Satu persatu diperiksa dengan sabar oleh dokter dokter USNS Mercy yang ditugaskan melakukan pemeriksaan awal. Berbagai macam penyakit mulai dari yang ringan, katarak, sampai tumor! Hhh... untung aku bukan dokter! Untung dulu gak jadi milih dokter! Aku bisa pingsan kalau harus mengobati mereka.

Setelah mereka settled, kami ke Pendopo Bupati untuk acara formal, antara Pemda setempat dan official dari USNS Mercy. Mercy menampilkan Band yang keren, semua menikmati. Sedangkan aku juga menghayalkan kalau saja semua warung warung yang membatasi pandangan dari Pendopo Bupati ke lepas pantai bisa dipindahkan.. seandainya saja kota Gunung Sitoli itu lebih tertata... di kejauhan aku melihat laut dan nelayan..


Dari sana kami ke panti asuhan untuk membantu beberapa 'tukang bangunan' USNS Mercy untuk survey, agar mereka juga bisa melakukan perbaikan. Perjalanan kemudian nanti akan dilanjutkan ke pelabuhan baru.


Sebelum ke pelabuhan kami pergi ke Museum Nias yang diwarnai oleh begitu banyak koleksi maket Omohada dan artifak Nias. Di salah satu sudut terlihat baju adat Cina yang sudah usang, dan ternyata para pedagang Cina pernah sampai ke daratan Nias di masa lampau. Kami menikmati juga jalan setapak di pinggir pantai, yang masih termasuk kawasan museum, melihat lagi ke laut lepas, yang di sebrangnya terdapat pantai Sibolga. Museum juga dilengkapi dengan kebun binatang mini.

Pelabuhan baru sudah dipebuhi oleh pasien yang akan dirawat di USNS Mercy, mereka menunggu boat yang hilir mudik untuk membawa mereka ke rumah sakit terapung itu. Satu pandangan yang menyentuh hatiku, 'Mr. Popeye' ntah siapalah namanya.. hanya saja yang aku tahu dia adalah seorang nelayan sipil biasa yang volunteer khusus untuk membantu. Buku buku tangannya berdarah karena terhempas ke dinding dok yang terbuat dari semen kasar, dan karena menarik tali kapal untuk menjaga kestabilan. Salut untuk kamu Popeye! You're great!.. Sesaat aku menjadi malu.. apa aku bisa berbuat yang sama? Apa bangsaku juga sudah banyak berbuat yang sama? hhh...

Menuju ke USNS Mercy, boat kami melaju dengan kencang. Terasa angin laut di wajah, meninggalkan butiran garam yang membuat kulit kami menjdi lengket. Rambutku pun acak acakan. Sesampainya di gerbang USNS Mercy, boat kami disambut oleh komandan kapal. Komandan yang dari tadi juga tidak berhenti bekerja - bukan hanya memerintah... tapi asli! ikut berpartisipasi. Orang orang seperti ini yang kita butuhkan, penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Seharian itu kami menghabiskan waktu mengeksplorasi kapal, mulai dari kekaguman kami akan kerapihan kapal dalam menjada peralatan, menjaga kebersihan, fasilitas yang luar biasa... tetapi yang paling penting adalah kuatnya kerja sama. Di USNS Mercy tidak ada yang ingin menjadi bos, tetapi semua berpikir mereka harus bekerja, memberikan kontribusi yang sebanyak banyaknya...

Saturday, October 30, 2004

One day, just you and me...

September 23, 2004 we decided as the day that we should explore a bit part of Indonesia. Funny how we have been away from the country but never really understand all the rich inside it. The four Flamboyan dwellers did the cross country road Sumatra-Java-Bali. It was just Abach Putra, Amie Uni, Dasha and Mr.Jazz. It was a test case for Mr. Jazz.
The trip was started through the Eastern Sumatra Inter Province Road. We have never seen such poor suburban areas in our life. Totally different from the urban poor that Putra and I walked through during our college years. This is the silent poor – in the middle of nothingness, crossed by the dry red earthed unfinished- too long of unfinished inter province road. Sad. Only sadness that came to mind at first, then followed by extreme furious.

The trip on Sumatra to Java took 3 days 2 nights. We passed North Sumatra, Riau, Jambi, South Sumatra and Lampung, then cross the Sunda Strait, wathcing Krakatoa from distance. How glad we were as we reached the first stop in Anyer. It was a fun trip – partially planned, partially goes with the flow. Putra and Dasha quickly jumped into the pool just by the ocean. Big smile arrived in my face as I see them playing with the fresh water.

From Anyer, it was Bandung. Bandung is another story. Meeting old college mates and sort of spent the time to hang at cafés. Indeed, Bandung was a student city. Lots of Factory Outlets, Cafés, and what we appreciate much was the quality of the Architectural work and finishes. As the thirst for new sights always hit on us, we explored to the smallest areas of Bandung. The yogurt, at…., batagor Riri… serabi imut at… plus the hot sekoteng. Nothing was like hanging out again at night. The night was also beautiful at the… seeing the little lights of Bandung that reflected the stars in the dark sky. The visit was also added by the visit to Tangkuban prahu and Ciwidey.
After a long rest before sunset on the second day, Putra hit the road. It was just him as the captain who led Mr. Jazz. We talked all night long, just like in college. Smiling on my parents worries as the let us go to the trip. It was my first cross country road trip as the responsible person to a family! I used to be just the kid in the trip who had nothing to worry about.

Jogja, was not quiet a surprise, as it was our second time back. But the first time to return together. The first day was mostly spending time at Keraton, the market, and Malioboro. Gave Dasha her first experience riding the andong. Second day and third day was all about Candi, Borobudur and Prambanan. Our favorite was Prambanan, mass wise. But as the great wonder of the world, nothing beat sunset at Borobudur. It was perfect. Scrolling the small roads of Jogja, little isles in the Kampoengs. Jogja-ness, the Kampoeng people, were able to live very humble. It amazed us, but made us realized how lucky our life is. Nothing much to complain. But we are not leaving Jogja without me getting the traditional Batik, wax, canting, and natural color materials to make Batik.
Slow Sunday we passes Solo on the way to Bali. We explore the quiet Keraton Solo neighborhood and tried the local Arab Kebab, plus sholat in one of the mosque at Kampung Arab.
From Jogja, leading to Bali – again another long drive. We took the Southern Java Provincial Road and then maneuver to the Northern Provincial Road. As we arrive at sunrise in the forest of…. Again, just amazed of the wonderful woods. Regardless it was dry season, and all the leaves had fallen on the ground, but reminds me of fall in the US. So why can’t Indonesia make the best of this country. If only…

Bali, Yes! The ride from the roll on roll off terminal was magnificent! One side is the ocean view, another is either hills or paddy field. I did all the driving while Captain Putra was just enjoying the sun, the view, and me giving him the time to relax. Immediately we checked into a Balinese style hotel in Kute. The plan to get rest was invaded by wanting to see the beautiful Bali garden. Dasha and I were busy playing in the garden after a hot shower. A necessary hot shower after being so tired on the road. Meanwhile our captain, Putra, and Mr. Jazz are resting in their sleep. Bali was again as simple as just resting and exploring. Candi to candi, market to market, silver smith to silver smith.. We really did shop there! Packed the car with tons of stuff. It was fun exploring and shopping! What was wonderful was the time when Dasha had the chance to play with Bali children who practice the dance. The villages were beautiful. The sarong were very soft rubbing against my face. The sunset at Kute was another joyous. I almost forgot how I love the ocean. Playing there at Kute, seeing Putra led Dasha into the water, slowly, teaching her about waves, ocean habitat, sands, sun,… reminded me of my own childhood with Dad. I hope Dasha will remember this somewhere in the tip of her mind as she grows up.
From Bali, back to Bromo mountain. The freaky drive within the early morning mist to mountain top really gave me goose bumps. But the reward was something. The cold breeze, and the heat at the same time, did not stop us from climbing the Bromo mountain. Dasha was pretty tough for climbing half of the stairways, until she gave up and gave more challenge to Captain Putra to carry her up. I was amazingly tired, clueless of what was happening, but I was…

Returning to home was also involving transit in many cities – again to Jogja to explore the cemetery of …., then to Bandung and Jakarta once more. The next Sumatra stop was thorugh South Sumatra again, then Bukit Tinggi, where we were just adored by the natural beauty of the Lakes, Canyons, Waterfalls, and food. The trip back home then followed by entering North Sumatra from Sidempuan area.

It was a full non stop 5 week trip. Nothing beat the fun of the trip. We will do it again soon. With Lombok as addition. Just love cross country too much!